Dilansir dari Cryptoglobe, sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan oleh perusahaan investasi dan penelitian mata uang kripto, CoinShares, memperkirakan sekitar 74,1% operasi penambangan Bitcoin (BTC) menggunakan energi terbarukan.

Makalah itu juga menunjukkan bahwa operasi penambangan Bitcoin (BTC) sering terkonsentrasi di daerah yang memiliki sumber energi terbarukan berlimpah. Penambang sebenarnya terdorong untuk menggunakan energi terbarukan dalam banyak hal, karena lebih menguntungkan dalam jangka panjang bagi mereka. Namun, tampaknya penggunaan energi terbarukan di industri kripto sedikit turun dari tahun lalu sekitar 77,8%.

Jika angka-angka ini benar, maka akan membuat industri blockchain lebih didorong oleh energi terbarukan daripada hampir setiap industri skala besar lainnya di dunia.

Selain statistik energi ini, laporan itu juga menunjukkan bahwa penambang rata-rata masih menghasilkan keuntungan, bahkan selama pasar melemah (bear market) yang berkepanjangan.

Selain itu, penting untuk dicatat, para pendukung mata uang kripto bersikeras bahwa teknologi untuk mata uang kripto mengkonsumsi energi jauh lebih sedikit daripada perbankan tradisional dan perusahaan kartu kredit. Bahkan telah dihitung bahwa penambangan Bitcoin menggunakan lebih sedikit listrik setiap tahun daripada lampu Natal musiman. Sebagian besar operasi penambangan kripto besar melakukan upaya signifikan untuk mengurangi jejak karbon mereka.

Tahun lalu, Cryptosolartech, penambang Bitcoin terbesar di Spanyol, mengumumkan bahwa mereka sedang membangun pembangkit tenaga surya 300 MW untuk mendukung operasi penambangannya.

Pada bulan Maret tahun ini, startup penambangan kripto terkemuka Bitmain dilaporkan berencana untuk menyiapkan 200.000 unit peralatan penambangan di wilayah Cina yang menawarkan tenaga listrik tenaga air yang murah.

Sumber: Cryptoglobe

The post Mayoritas Penambangan Bitcoin Gunakan Energi Terbarukan appeared first on CoinDaily.

Please rate this